Responsive Ads Here
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Beberpa hari ini masyarakat dibuat resah dengan terjadinya kekerasan terhadap beberapa pemuka agama. Yang terakhir dan yang menyedot perhatian masyarakat adalah penyerangan yang diakukan seorang pemuda terhadap jemaah gereja Santa Lidwina di Bedog, Sleman, Yogyakarta. Belakangan diketahui bahwa penyerang bernama Suliono, pemuda asal Bayuwangi yang baru beberapa hari tinggal di Jogja.

Sontak, hanya dalam waktu beberapa menit, peristiwa tersebut menuai reaksi dari para tokoh dan elit poitik dari berbagai kalangan. Berabagai kutukan dan kecaman disampaikan. Mulai dari soal toleransi hingga masalah terorisme. Padahal polisipun belum memulai penyelidikan.

Media mainstreem dengan semangatnya menggoreng habis peristiwa ini, dengan iformasi yang masih secuil di bumbui dengan opini yang diulang-ulang.

Secara tidak sadar, atau mingkin memang disengaja, mereka (para elit dan media) telah mengarahkan pada anggapan bahwa telah terjadi masalah besar dan bersiap siap untuk menunjuk orang atau pihak tertentu yang akan disalahkan (lebih tepatnya dikambing hitamkan).

Padahal, jika ingin simple, polisi bisa juga menyatakan bahwa penyerangan dilakukan oleh orang gila atau orang yang menderita gangguan jiwa. Seperti pada kejadian-kejadian sebelumya yang menimpa para pemuka agama Islam di beberapa tempat di Jawa Barat.

Seperti diketahui, tindakan keji sebelumnya juga menimpa dua ulama di Jawa Barat. Yakni pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung KH Umar Basri dan Komando Brigade PP Persis Ustaz Prawoto. Ustadz Prawoto meninggal dunia akibat penganiayaan yang terjadi pada 1 Februari itu. Kedua pelaku dalam peristiwa tersebut, hanya dalam waktu beberapa jam setelah kejadian, oleh polisi dinyatakan sebagai orang gila.

Meski pernyataan polisi dirasa janggal, masyarakat Jawa Barat tidak terpancing emosi untuk melakukan tindakan kekerasan. Mereka hanya melampiaskan kekecewaan melalui media sosial. Barangkali, di benak mereka ada keyakinan bahwa mereka sedang dipancing untuk melakukan kekerasan yang kemudian akan dipakai alasan oleh pihak tertentu untuk menyudutkan mereka sebagai kaum radikal, intoleran atau apalah. Apalagi kalau dikaitkan dengan kondisi politik jelang pilkada.

“BIARKAN MEREKA BEREBUT PANGGUNG, KITA NGGAK USAH NONTON.” Barangkali itulah yang pikiran yang ada di benak masyarakat di tingkat bawah. Sikap mereka sangat berbeda dengan pernyataan para elit politik yang terkesan overdosis dan terburu-buru mengambil kesimpulan terhapap peristiwa yang terjadi di Gereja Santa Lidwina. 


Masyakat Jogja terutama yang berada di sekitar gereja bersama-sama tanpa membedakan agama, suku dan golongan bersama-sama membersihkan Gereja Santa Lidwina sesaat setelah garis polisi dilepas oleh petugas. Mereka bekerja atas kemauan sendiri, atas dorongan hati nurani yang bersih, tanpa ada yang mengkordinir. Masihkah ada yang ingin mengatakan terjadi krisis toleransi antar umat beragama?

Rakyat sudah semakin cerdas. Mereka tahu bahwa ada pihak yang ingin mengadu domba antar pemeluk agama, entah untuk kepentingan siapa. Dan mereka mempunyai cara sendiri untuk menangkal semua itu. Ada baiknya para elit negeri ini belajar dari mereka.

Rabu, 07 Februari 2018


Aina Gamzatova, wanita muslim asal Daghestan berusia 46 tahun, secara resmi telah mengumumkan niatnya untuk maju dalam pemiihan presiden Rusia. Dia ingin melawan Presiden Rusia Vladimir Putin yang akan mencalokan diri lagi dalam pemilihan Maret 2018.

Pencalonan Gamzatova - wartawan, penasehat mufti pemerintahan Dagestan - diajuka pada Jumat (05/01) menyusul kepastian pencalonannya sepekan sebelumnya,melalui akun Facebooknya.

Gamzatova merupakan pemimpin redaksi Islam.ru, media Islam terbesar di Rusia yang terdiri dari televisi, radio dan media cetak.Gamzatova juga diketahui sering menulis buku tentang Islam dan melakukan kegiatan amal.

Gamzatova menikah dua kali. Suami pertamanya merupakan pemimpin muslim, Said Muhammad Abubakarov, yang meninggal karena dibunuh dalam sebuah ledakan mobil pada 1998. Hingga kini, pelakunya belum ditemukan.

Kini, ia telah menikah kembali dengan Akhmad Abdulaev, seorang Mufti Dagestan, meski Gamzatova sendiri merupakan seorang sufi.

Putin telah memastikan akan mencalonkan diri lagi pada pemilihan presiden dan jajak pendapat menunjukkan ia akan menang dengan mudah.

Putin telah berkuasa sejak tahun 2000, sebagai presiden dan juga perdana menteri dan bila terpilih lagi, ia akan menjabat sampai tahun 2024.>

Wartawan TV Rusia Ksenia Sobchak juga mengatakan akan mencalonkan diri namun Putin disebutkan para pengamat tak akan menghadapi perlawanan berarti. Pemimpin oposisi utama, Alexei Navalny, secara resmi telah dilarang ikut serta karena dinyatakan bersalah terlibat dalam penggelapan, dakwaan yang ia sebut memiliki motivasi politik.

Majunya Gamzatova sendiri menjadi perdebatan hangat di kalangan komunitas Muslim Rusia.

Seorang bloger terkenal Dagestan, Zakir Magomedov menulis, Gamzatova pasti tidak akan menang walaupun seluruh populasi Muslim yang berjumlah 20 juta memilihnya dalam pemilihan presiden di negara dengan 140 juta jiwa itu.

"Tentu saja dia tak akan jadi presiden. Untuk membicarakannya saja merupakan hal yang bodoh," tulis Magomedov.

Gamzatova kemungkinan mendapatkan banyak suara di Dagestan dan Kaukasus utara.

"Dia jelas akan mendapatkan suara mayoritas dan Putin tak akan mendapatkan suara sebesar 146% seperti biasa dari republik itu," sindir Magomedov mengacu pada guyonan di kalangan pengkritik Putin terkait suara yang biasa didapat dari pendukung setia presiden Rusia itu.

Mahasiswa Indonesia di Moskow yang tengah mengambil doktoral bidang politik, Eduardus Lemanto mengatakan jajak pendapat yang menempatkan Putin di posisi teratas karena dua barometer penting, keamanan dalam negeri serta ekonomi.

"Tentu ok ok saja mereka masuk ke bursa pencalonan....tapi kira-kira mampu tidak menduduki posisi yang tuan Putin miliki," kata Eduardus kepada wartawan BBC Indonesia, Endang Nurdin.

"Jajak pendapat yang menempatkan Putin belakangan ini di posisi paling tinggi, saya rasa penilaian cukup fair. Ada dua barometer...barometer pertama soal keamanan dalam negeri Rusia, bangsa ini cukup tertib, di mana dunia tengah mencari ketertiban... yang kedua soal ekonomi, di bawah pemerintah Putin berjalan baik, ini jadi indikasi pemerintahan dia ini, berjalan secara efektif dan efisien," tambahnya.

Sementara itu Gaydarbek Gaidarbekov, mantan juara tinju Olimpiade Dagestan melalui akun Instagramnya menulis pencalonan Gamzatova akan meningkatkan citra perempuan Muslim Rusia.

"Bahkan bilapun kalah, orang akan tahu bahwa perempuan berjilbab ini tidak hanya seorang ibu atau seorang wanita, namun juga orang berpendidikan, yang bijak dan terhormat," tulis Gaidarbekov.

Diprediksi Tidak Menang

Gamzatova banyak menerima kritik pedas terkait pencalonannya. Banyak yang memprediksi bahwa dia tidak akan bisa merebut kursi kepresidenan dari Vladimir Putin, sekalipun 20 juta muslim Rusia memilihnya.

"Tentu saja, dia tidak akan menjadi presiden. Bukanlah hal penting untuk membicarakannya," tulis Zakir Magomedov, seorang bloger terkenal dari Dagestan.

Akan tetapi, dia mungkin akan mengantongi banyak suara di Dagestan dan Kaukasus Utara.

"Dia pasti akan mendapatkan suara mayoritas dan Putin tidak akan mendapatkan suara sebanyak 146 persen dari republik ini," tulis Magomedov, mengacu pada sebuah lelucon di kalangan Kremlin tentang persentase loyalitas Putin.

Pakar lain mengatakan bahwa pencalonan Gamzatova mendiversifikasi kumpulan calon presiden yang kebanyakan laki-laki.

"Semakin beragam kandidatnya, terutama ada wanita, semakin baik. Terlebih dia adalah muslim, kenapa tidak?" ujar pengamat Kaukasus Utara dan Direktur Pusat Analisis dan Pencegahan Konflik Ekaterina Sokirianskaia.

Sebuah rumah terbagi 


Sejauh ini, pernyataan Gamzatova mengenai pencalonannya hanya sebatas deklarasi semata dan tidak bersifat substansial.

 "Ada ungkapan bagus, 'Sebuah rumah yang terbagi tidak bisa bisa bertahan'," tulis Gamzatova di akun Facebook pribadinya.

 "Negara kita, Rusia, adalah rumah kita, dan jika kita membaginya menjadi muslim atau Kristen, penduduk asli Kaukasus atau Rusia, pemerintah negara kita tidak akan pernah ada," lanjutnya.

 "Jangan anggap pencalonan saya hanya demi klerus atau usaha seorang muslim untuk menciptakan pesaing bagi Vladimir Putin... Ini adalah sebuah keinginan untuk mengumumkan kepada publik dan mendukung federal dengan sikap anti-Wahhabisme yang keras," imbuhnya.

Dengan lantang ia menyerukan dan ingin agar Kremlin semakin tegas dalam memberantas para pejuang yang ingin mendirikan negara sendiri di bawah hukum Islam. 

Maraknya kelompok bersenjata di Rusia berasal dari awal 1990-an, ketika ratusan pejuang muslim bergabung dengan kelompok separatis di negara tetangga Chechnya. Banyak di antara mereka merupakan orang Saudi, dan doktrin mereka, yakni menyebut orang sufi sebagai musyrik yang memuliakan "orang-orang kudus" dan tempat-tempat suci
Dua keluarga Muslim memegang kunci pintu gereja paling suci di Yerusalem untuk menjaga kedamaian di antara tiga denominasi Kristen yang bermusuhan.
Adeeb Jawad Joudeh Al Husseini ditemui ketika dia sedang duduk di kursi yang terletak di pintu masuk pengunjung Gereja Makam Kudus, Yerusalem, pada suatu Minggu pagi. Di gerbang gereja yang didirikan pada abad ke-4 itulah pria muslim berusia 53 tahun tersebut menghabiskan sebagian besar hidupnya.

Kunci besi sepanjang 20 sentimeter adalah satu-satunya benda yang dapat membuka gerbang Gereja Makam Kudus

Ayah Al Husseini, kakeknya, dan belasan generasi di atasnya juga menjalani hidup mereka seperti itu, duduk di kursi seraya menjaga gereja yang diyakini merupakan makam Yesus Kristus.
Saat sedang berbicara, Al Husseini menarik kunci besi sepanjang 20 sentimeter dari dalam kantung jaket kulitnya. Kunci itu adalah satu-satunya benda yang dapat membuka gerbang gereja.
Menurut Al Husseini, keluarganya diberi tugas menjaga gereja itu oleh Saladin, sultan yang merebut Yerusalem dari tentara Salib pada 1187 lampau.
Saladin ingin memastikan gereja itu tidak dirusak oleh umat muslim seperti pada 1009—ketika pemimpin kekhalifahan Fatimiyah, Al Hakim, memerintahkan sejumlah gereja di Yerusalem dibakar, termasuk Gereja Makam Kudus (belakangan, putra Al Hakim mengizinkan pembangunan kembali Gereja Makam Kudus pada 1128).
"Sehingga Saladin memberi keluarga kami kunci ini untuk melindungi gereja. Bagi keluarga kami, ini adalah suatu kehormatan. Namun, kehormatan itu bukan hanya untuk keluarga kami, melainkan juga untuk semua umat muslim di dunia," kata Al Husseini.
Karena itu, bersama keluarga muslim Nuseibeh, keluarga Al Husseini menjadi bagian dari pengurus Gereja Makam Kudus dalam struktur yang rumit. Gereja tersebut digunakan oleh enam denominasi kuno, Katolik Roma, Ortodoks Yunani, Ortodoks Armenia, Ortodoks Suriah, Ortodoks Etiopia, dan Ortodoks Koptik. Setiap mazhab memiliki biarawan yang bermukim di kompleks gereja.
Sepanjang sejarah, hubungan antara komunitas keagamaan di kompleks itu mengalami pasang-surut, bahkan pernah muncul aksi kekerasan manakala menentukan denominasi mana yang menguasai bagian tertentu dari gedung gereja.
Agar ketegangan tidak meluap, ada sebuah perjanjian yang dibuat pada 1853 berisi pembagian ruangan dalam gereja untuk setiap denominasi.
Setiap pagi, tatkala gerbang gereja dibuka pada pukul 04.00, anggota keluarga Nuseibeh dan Al Husseini, atau perwakilan yang ditunjuk kedua keluarga itu, muncul untuk melakoni sebuah upacara.
Perwakilan keluarga muslim membuka kunci dan mendorong salah satu daun pintu. Kemudian pemuka agama Katolik Roma, Ortodoks Yunani atau Ortodoks Armenia (tergantung dari siapa yang bertugas menurut jadwal), masuk ke dalam gereja dan menarik daun pintu lainnya.
Adapun pemuka agama dari denominasi lainnya bertugas mengawasi. Upacara serupa akan dilakukan saat gereja ditutup pada pukul 19.00.
Para turis dan peziarah datang ke gereja ini untuk mencium bongkahan batu yang dipercaya sebagai tempat jenazah Yesus dimandikan sebelum dimakamkan. Mereka juga bisa memasuki ruang bawah tanah yang diyakini pernah menampung jenazahnya. Semua kegiatan ini harus melewati penjagaan keluarga muslim, yang duduk di bangku sembari menangani urusan bisnis dan keluarga.

Gereja Makam Kudus di Yerusalem
Para ahli sejarah tidak bisa menentukan secara pasti sudah berapa lama para keluarga muslim ini berperan sebagai penjaga gerbang gereja.
Sebaliknya, para ahli sejarah tidak pernah meneliti apakah keluarga muslim itu memang benar diberi tugas oleh Sultan Saladin untuk menjaga Gereja makam Kudus. Kedua keluarga muslim sudah dianggap sebagai tokoh penting dalam operasional rutin gereja tersebut.
"Pada dasarnya peran mereka seperti banyak hal lainnya di gereja, sebuah tradisi. Dan saya pikir hal seperti itu benar-benar merupakan salah satu yang berharga di Yerusalem," kata Raymond Cohen, profesor emeritus Universitas Ibrani Yerusalem di bidang hubungan internasional, yang telah mengkaji Gereja Makam Kudus dan menulis buku bertajuk Saving the Holy Sepulchre.
Pembagian tugas dua keluarga muslim telah diatur sejak lama. Keluarga Al Husseini memegang kunci gerbang gereja, sedangkan keluarga Nuseibeh bertugas membuka dan menutup pintu gereja.
Tugas itu, menurut Wajeeh Y Nuseibeh, diberikan pada 637 manakala khalifah Umar membawa agama Islam ke Yerusalem.
"Keluarga kami datang pertama kali di Yerusalem bersama Umar," kata pria berusia 67 tahun itu.
Sejak saat itu, menurutnya, keluarga Nuseibeh diberi kepercayaan melindungi Gereja Makam Kudus dari orang-orang yang ingin merusak gereja. Wajeeh Y Nuseibeh kemudian memberikan kartu nama bertuliskan jabatannya sebagai 'Pelindung dan penjaga gerbang Gereja Makam Kudus'.
Nuseibeh tersenyum mendengar cerita versi Al Husseini. Dia lalu mengulangi versi ceritanya dengan menjabarkan kisah khalifah Umar, yang menguasai Yerusalem lebih dari 500 tahun sebelum era Saladin.
Ketika Nuseibeh dan Al Husseini duduk berdampingan, mereka mengatakan dua versi cerita ini adalah perdebatan ringan yang kadangkala mereka tertawakan. Hal itu diamini Ibrahim Attieh, pensiunan pemandu wisata berusia 75 tahun yang merupakan teman keduanya.
"Ya mereka sahabat dan saya adalah teman keduanya," kata Attieh, salah seorang dari banyak sahabat, pendeta, turis, dan polisi Israel yang turut duduk dan menyaksikan perbincangan di pintu gerbang hari itu.
Meski selamat dari kekuatan penguasa Yerusalem, termasuk ratusan tahun kekuasaan kekhalifahan yang mengutip uang dari para peziarah, Gereja Makam Kudus terbelah akibat konflik internal.
Sejarah menceritakan ketegangan, yang kadangkala berujung pada bentrokan, antara berbagai denominasi yang menguasai area tertentu di dalam gereja dan penguasa lokal, terutama pada masa Kekaisaran Ottoman yang kerap terlibat dalam pembagian hak dan teritori di dalam gereja.
Beberapa kali, ketegangan ini hampir memicu konflik antar negara adidaya dunia. Pada 1853, Rusia mengancam akan menginvasi Turki jika pemerintahan Ottoman, yang menguasai Yerusalem, meloloskan permintaan Prancis agar sebagian wilayah Ortodoks Yunani di dalam Gereja Makam Kudus diberikan ke Katolik Roma.
Ancaman ini membuat penguasa Ottoman, Sultan Abdulmecid I, mengeluarkan dekrit berisi penghentian pengalihan hak dan properti di dalam Gereja Makam Kudus.

Para Peziarah di Gereja Makam Kudus
Sampai sekarang, status quo itu masih berlaku dalam setiap sendi kepengurusan gereja, mulai dari jadwal misa, bahasa yang digunakan saat misa, hingga rute setiap prosesi.
Setiap perubahan dari rutinitas itu berisiko menyebabkan ketegangan dan kekerasan. Contoh peristiwa terkini berlangsung pada 2008 manakala baku hantam terjadi antara pemuka Ortodoks Yunani dan Ortodoks Armenia gara-gara rute prosesi. Akibatnya, beberapa orang ditangkap.
Karena menjaga status quo merupakan urusan yang pelik, renovasi dan perbaikan gereja sangat jarang dilakukan, kata Raymon Cohen.
"Menjaga perdamaian bukan urusan yang mudah," ucapnya.
Bagaimanapun, setelah berpuluh tahun berunding, para pemimpin Katolik Roma, Ortodoks Armenia, dan Ortodoks Yunani baru-baru ini membuat kesepakatan bersejarah untuk memperbaiki konstruksi yang diyakini sebagai makam Yesus. Sejumlah arsitek sudah sejak jauh hari mengingatkan konstruksi tersebut rawan ambruk.
Konstruksi berbentuk persegi itu dikenal dengan sebutan Edicule. Lokasinya berada di bawah bundaran utama gereja, yang kini ditutupi perancah. Beragam tangga, bongkahan batu, triplek, dan material bangunan lainnya berceceran di sekitar pusat gereja sejak Juni 2016.
Pekerjaan perbaikan pada kapel makam itu adalah yang pertama kali dilakukan selama lebih dari 200 tahun dan proyek signifikan pertama di gereja sejak bangunan direstorasi pada awal 1960-an.
Pada Minggu pukul 18.30, setengah jam sebelum gereja resmi ditutup, bunyi hantaman memecah keheningan. Suara itu datang dari Omar Sumren yang menjalankan ritual membunyikan pengetok pintu, yang berlanjut dengan menutup salah satu dari dua pintu sebagai tanda menutup jam operasional gereja. Sumren dan adiknya, Ishmael, telah bekerja untuk Al Husseini selama 25 tahun. Mereka menjalankan ritual membuka dan menutup pintu gereja ketika Al Hussein sedang sibuk.
Sesaat sebelum pukul 19.00, ketika pengunjung terakhir meninggalkan gereja, Ishmael menaiki tangga yang direbahkan pada pintu gereja dan memindahkannya ke luar.
Berdiri di dekat pintu, dua biara Katolik ordo Fransiskan mengawasi setiap gerakan. Seorang polisi Israel, yang memakai tutup kepala Yahudi atau Yarmulke, juga hadir mengikuti ritual malam itu.
Ishmael menutup pintu lalu menuruni anak tangga guna menggerakkan kunci penutup. Dia melipat tangga dan menyorongkannya ke arah para biarawan melalui celah kecil pada pintu.
Selagi para biarawan memulai aktivitas mereka di dalam kompleks gereja pada malam hari, Omar, yang mendapat kepercayaan memegang kunci dari Al Husseini, beristirahat di dalam ruangan kecil dekat lapangan utama di depan gereja. Setiap malam salah satu pemegang kunci tidur di sini, siap memulai ritual membuka pintu gereja keesokan harinya. "Bagi saya, ini adalah rumah kedua," kata Al Husseini.



Sumber : BBC

Rabu, 27 Desember 2017

Budayawan Betawi Ridwan Saidi yang hidup di era Partai Komunis Indonesia (PKI) menyebutkan, partai tersebut mulai gencar melakukan teror sejak 1961 hingga akhirnya mereka di'gulung' oleh rakyat. Karena itu, apabila saat ini PKI betul-betul muncul kembali, hanya ada satu kata. "Lawan!" ungkap pria berusia 75 tahun itu di teras rumahnya kepada Republika.co.id, Kamis (28/9).
Awalnya, tahun 1952 mereka direhabilitasi oleh Soekarno setelah pemberontakan Madiun dengan cara para tokoh PKI diterima menghadap ke Istana. Aidit, Lukman, Tan Ling Djie, mereka diterima oleh Bung Karno," kata dia.

Setelah itu, PKI melakukan persiapan menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) pada 1955. Menurut Ridwan, mereka mengerahkan gelandangan pengemis untuk mendukung mereka. PKI memenuhi Jakarta dengan yang Ridwan sebut gembel.

"Penuh Jakarta itu dengan gembel, dan mereka diproses oleh jaringan PKI di kelurahan untuk mendapatkan KTP. Sehingga, hasil Pemilu itu, PKI menduduki posisi keempat untuk pemilihan anggota DPR," ungkap Ridwan.

Pada Pemilu 1955 tersebut, tiga partai di atas PKI adalah PNI, Masyumi, dan NU. Akan tetapi, pada saat pemilihan DPRD, PKI naik menjadi peringkat kedua.

Ridwan menjelaskan, dalam kampanyenya itu, PKI melakukan suatu kebohongan kepada masyarakat. Saat itu, mereka berkata kepada masyarakat, PKI itu singkatan dari Partai Kiai Indonesia. Bahkan, mereka berkampanye menggunakan gambus.

"Kampanye mereka pakai gambus waktu itu. Itu sudah melakukan kebohongan-kebohongan di situ. Kampanyenya juga menyerang pribadi, dulu nggak ada aturannya kan. Dia melempar kebohongan-kebohongan," tutur dia.

Kemudian, Ridwan mengatakan, PKI melakukan banyak aksi yang sebetulnya merusak ketentraman kerja di perusahaan-perusahaan swasta. Saat itu, PKI ingin menasionalisasi perusahaan-perusahaan swasta. Padahal, tidak semua perusahan swasta itu milik pemerintah Hindia-Belanda.

"Kan ada aturan hukum untuk mengambil alih. Macam-macam perusahaan itu, didemo terus-menerus membawa kegelisahan. Sejak 1957, dia terus melakukan aksi-aksi demikian hampir setiap hari," kata dia.

Pada 1960, Undang-Undang (UU) Agraria dikeluarkan oleh Presiden Republik Indonesia. Menurut Ridwan, UU tersebut merupakan UU yang bagus. Tapi, dia bingung karena PKI justru menolaknya. Mereka lebih memilih mematok tanah secara sepihak.

Salah satu peristiwa yang ia ingat adalah Peristiwa Bandar Betsi. Peristiwa itu terjadi tahun 1965. Kala itu, menurut Ridwan, terbunuh seorang TNI, Peltu Sudjono karena mencegah usaha PKI merampas tanah di Bandar Betsi.

"Anehnya, mereka tidak mendukung. Dia lebih mau aksi sepihak duduki tanah di mana-mana sampai terjadi bentrokan fisik dan ada korban lah seperti Bandar Betsi di Sumatera Utara. Itu yang mengherankan saya, kok dia nggak mau UU agraria," ungkap dia.

Ridwan mengaku, pada masa itu bisa dibilang mahasiswa yang sedang berada di kampus untuk kuliah merasa tidak nyaman. Itu karena saat itu harus berhadapan terus-menerus dengan PKI. Terutama para anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

"Dia menuntut pembubaran HMI kan. Dengan aksi yang terus menerus hampir setiap hari. Kan mereka pengangguran, siap aksi," kata dia.

Saat itu, Ridwan tergabung ke dalam HMI. Ia juga menceritakan ketidakadilan PKI melalui kelompok-kelompoknya terhadap organisasinya tersebut kala itu. Seperti menahan undangan acara kenegaraan yang seharusnya juga diikuti oleh pihaknya saat itu.

"Kita mengalami bagaimana mereka menguasai Front Pemuda. Itu kan federasi dari seluruh ormas pemuda. Kita selalu nggak dapet undangan kalau ada acara kemerdekaan, sumpah pemuda dan lainnya itu," tutur dia.

Saat itu, HMI merupakan anggota dari Front Pemuda. Namun, Front Pemuda itu, kata dia, dikuasai oleh Pemuda Rakyat. Pemuda Rakyat merupakan kelompok sayap milik PKI.

Menurut Ridwan, pernah ada kegiatan Rapat Raksasa Merebut Irian Barat. Ketika itu, pihaknya tidak mendapatkan undangan untuk kegiatan tersebut. Ia menyebutkan, hal itu dilakukan agar HMI dipandang sebagai organisasi yang kontrarevolusi.

"Kan dulu tuduhannya itu HMI kontrarevolusi, 'liat aja tuh Rapat Raksasa Merebut Irian Barat kagak ngikut'. Padahal mah nggak diundang," tutur dia.

Meski demikian, Ridwan dan beberapa kawannya tetap datang dengan cara menyelusup ke dalam acara-acara tersebut. Seperti contohnya saat diadakan acara Pidato Bung Karno yang diselenggarakan oleh Front Nasional.

"Misal gini, dia kalau ada acara nasional, tau-tau kita muncul padahal sudah dihadang. Kita duduk deket-deket die kelompok PKI, Gerwani segala macem," cerita Ridwan.

Melihat HMI yang sudah dihadang tapi bisa masuk ke acara tersebut, menurut Ridwan, kelompok-kelompok sayap PKI tersebut mulai menyanyikan lagu Nasakom Bersatu Hancurkan Kepala Batu. Tapi, kemudian ia dan teman-temannya membalas lagu tersebut dengan Garuda Pancasila.

"Kan kita dengan cara melewati gerbang baru kita pakai atribut. Baru deh dihajar pakai lagu, ya kita bales dengan Garuda Pancasila,hahahahaha," katanya seraya tertawa.

Selasa, 26 September 2017

Masyarakat Cina pedesaan hidup di desa-desa yang terdiri atas 100 keluarga atau lebih. Satu rumah terkadang ditempati dua atau tiga keluarga. Banyak keluarga memiliki tanah sendiri, walaupun tidak cukup luas untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Banyak pula yang hanya bekerja sebagai petani penggarap atau buruh kasar untuk para tuan tanah atau para petani kaya. Petani penggarap ini harus membayar sewa tanah yang sangat mahal, berkisar antara 30 dan 60 persen dari hasil panen. Dulu banyak juga petani penggarap ini yang begitu miskin, sehingga mereka beralih menjadi pengemis, bandit, atau bahkan menjual anak-anak mereka untuk dijadikan pembantu atau budak pada keluarga-keluarga kaya. Di bawah sistem komunis, para petani penggarap bekerja dalam suatu kelompok besar. Kelompok- kelompok ini disusun menjadi tiga tingkatan.
Tingkatan tertinggi disebut komune, yang mengurusi segala kegiatan ekonomi bagi puluhan desa. Komune-komune dibagi lagi menjadi satuan-satuan lebih kecil yang disebut brigade produksi. Sebuah brigade produksi bisa terdiri atas satu desa yang besar atau beberapa desa kecil. Di dalam sebuah brigade, beberapa desa yang berdekatan yang terdiri atas 20 sampai 30 keluarga membentuk unit-unit yang disebut tim produksi. Brigade-brigade dan tim-tim produksi secara bersama-sama memiliki tanah garapan, perlengkapan pertanian, hewan pekerja, dan bengkel-bengkel kerja. Setiap keluarga diperkenankan memiliki pribadi rumah dan sebidang tanah. Biasanya mereka menanam sayur-mayur dan memelihara ayam, bebek, atau babi untuk kepentingan pribadi.
Tetapi, adanya perbedaan kesuburan tanah dan iklim menyebabkan beberapa daerah mengalami tingkat kehidupan yang lebih tinggi. Pendapatan rata-rata daerah di pedesaan rendah, sekedar cukup untuk makan dan membeli pakaian. Ada juga beberapa keluarga yang mampu menikmati sedikit kemewahan seperti sepeda, radio, mesin jahit, dan jam. Pada saat tanam dan panen para petani harus be-kerja lebih 10 jam sehari. Mereka pun masih harus menghadiri pertemuan-pertemuan brigade atau tim produksi. Mereka juga menghadiri rapat-rapat politik dan kelas-kelas yang diselenggarakan malam hari untuk belajar membaca dan menulis atau memanfaatkan metode-metode pertanian yang baru. Banyak brigade memiliki pesawat televisi umum untuk rekreasi, menonton film sekali seminggu. Film- film yang diputar di negeri itu umumnya berbau propaganda. Mereka juga memiliki sebuah perpustakaan kecil dan sarana olahraga. Beberapa brigade lain memiliki kelompok paduan suara kecil, orkes, atau kelompok teater.

Baca sumber