
Sontak, hanya dalam waktu beberapa menit, peristiwa tersebut menuai reaksi dari para tokoh dan elit poitik dari berbagai kalangan. Berabagai kutukan dan kecaman disampaikan. Mulai dari soal toleransi hingga masalah terorisme. Padahal polisipun belum memulai penyelidikan.
Media mainstreem dengan semangatnya menggoreng habis peristiwa ini, dengan iformasi yang masih secuil di bumbui dengan opini yang diulang-ulang.
Secara tidak sadar, atau mingkin memang disengaja, mereka (para elit dan media) telah mengarahkan pada anggapan bahwa telah terjadi masalah besar dan bersiap siap untuk menunjuk orang atau pihak tertentu yang akan disalahkan (lebih tepatnya dikambing hitamkan).
Padahal, jika ingin simple, polisi bisa juga menyatakan bahwa penyerangan dilakukan oleh orang gila atau orang yang menderita gangguan jiwa. Seperti pada kejadian-kejadian sebelumya yang menimpa para pemuka agama Islam di beberapa tempat di Jawa Barat.
Seperti diketahui, tindakan keji sebelumnya juga menimpa dua ulama di Jawa Barat. Yakni pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung KH Umar Basri dan Komando Brigade PP Persis Ustaz Prawoto. Ustadz Prawoto meninggal dunia akibat penganiayaan yang terjadi pada 1 Februari itu. Kedua pelaku dalam peristiwa tersebut, hanya dalam waktu beberapa jam setelah kejadian, oleh polisi dinyatakan sebagai orang gila.
Meski pernyataan polisi dirasa janggal, masyarakat Jawa Barat tidak terpancing emosi untuk melakukan tindakan kekerasan. Mereka hanya melampiaskan kekecewaan melalui media sosial. Barangkali, di benak mereka ada keyakinan bahwa mereka sedang dipancing untuk melakukan kekerasan yang kemudian akan dipakai alasan oleh pihak tertentu untuk menyudutkan mereka sebagai kaum radikal, intoleran atau apalah. Apalagi kalau dikaitkan dengan kondisi politik jelang pilkada.
“BIARKAN MEREKA BEREBUT PANGGUNG, KITA NGGAK USAH NONTON.” Barangkali itulah yang pikiran yang ada di benak masyarakat di tingkat bawah. Sikap mereka sangat berbeda dengan pernyataan para elit politik yang terkesan overdosis dan terburu-buru mengambil kesimpulan terhapap peristiwa yang terjadi di Gereja Santa Lidwina.
Masyakat Jogja terutama yang berada di sekitar gereja bersama-sama tanpa membedakan agama, suku dan golongan bersama-sama membersihkan Gereja Santa Lidwina sesaat setelah garis polisi dilepas oleh petugas. Mereka bekerja atas kemauan sendiri, atas dorongan hati nurani yang bersih, tanpa ada yang mengkordinir. Masihkah ada yang ingin mengatakan terjadi krisis toleransi antar umat beragama?
Rakyat sudah semakin cerdas. Mereka tahu bahwa ada pihak yang ingin mengadu domba antar pemeluk agama, entah untuk kepentingan siapa. Dan mereka mempunyai cara sendiri untuk menangkal semua itu. Ada baiknya para elit negeri ini belajar dari mereka.

Aina Gamzatova, wanita muslim asal Daghestan berusia 46 tahun, secara resmi telah mengumumkan niatnya untuk maju dalam pemiihan presiden Rusia. Dia ingin melawan Presiden Rusia Vladimir Putin yang akan mencalokan diri lagi dalam pemilihan Maret 2018.
Gereja Makam Kudus di YerusalemPara ahli sejarah tidak bisa menentukan secara pasti sudah berapa lama para keluarga muslim ini berperan sebagai penjaga gerbang gereja.Sebaliknya, para ahli sejarah tidak pernah meneliti apakah keluarga muslim itu memang benar diberi tugas oleh Sultan Saladin untuk menjaga Gereja makam Kudus. Kedua keluarga muslim sudah dianggap sebagai tokoh penting dalam operasional rutin gereja tersebut."Pada dasarnya peran mereka seperti banyak hal lainnya di gereja, sebuah tradisi. Dan saya pikir hal seperti itu benar-benar merupakan salah satu yang berharga di Yerusalem," kata Raymond Cohen, profesor emeritus Universitas Ibrani Yerusalem di bidang hubungan internasional, yang telah mengkaji Gereja Makam Kudus dan menulis buku bertajuk Saving the Holy Sepulchre.Pembagian tugas dua keluarga muslim telah diatur sejak lama. Keluarga Al Husseini memegang kunci gerbang gereja, sedangkan keluarga Nuseibeh bertugas membuka dan menutup pintu gereja.Tugas itu, menurut Wajeeh Y Nuseibeh, diberikan pada 637 manakala khalifah Umar membawa agama Islam ke Yerusalem."Keluarga kami datang pertama kali di Yerusalem bersama Umar," kata pria berusia 67 tahun itu.Sejak saat itu, menurutnya, keluarga Nuseibeh diberi kepercayaan melindungi Gereja Makam Kudus dari orang-orang yang ingin merusak gereja. Wajeeh Y Nuseibeh kemudian memberikan kartu nama bertuliskan jabatannya sebagai 'Pelindung dan penjaga gerbang Gereja Makam Kudus'. Nuseibeh tersenyum mendengar cerita versi Al Husseini. Dia lalu mengulangi versi ceritanya dengan menjabarkan kisah khalifah Umar, yang menguasai Yerusalem lebih dari 500 tahun sebelum era Saladin.Ketika Nuseibeh dan Al Husseini duduk berdampingan, mereka mengatakan dua versi cerita ini adalah perdebatan ringan yang kadangkala mereka tertawakan. Hal itu diamini Ibrahim Attieh, pensiunan pemandu wisata berusia 75 tahun yang merupakan teman keduanya."Ya mereka sahabat dan saya adalah teman keduanya," kata Attieh, salah seorang dari banyak sahabat, pendeta, turis, dan polisi Israel yang turut duduk dan menyaksikan perbincangan di pintu gerbang hari itu.Meski selamat dari kekuatan penguasa Yerusalem, termasuk ratusan tahun kekuasaan kekhalifahan yang mengutip uang dari para peziarah, Gereja Makam Kudus terbelah akibat konflik internal.Sejarah menceritakan ketegangan, yang kadangkala berujung pada bentrokan, antara berbagai denominasi yang menguasai area tertentu di dalam gereja dan penguasa lokal, terutama pada masa Kekaisaran Ottoman yang kerap terlibat dalam pembagian hak dan teritori di dalam gereja.Beberapa kali, ketegangan ini hampir memicu konflik antar negara adidaya dunia. Pada 1853, Rusia mengancam akan menginvasi Turki jika pemerintahan Ottoman, yang menguasai Yerusalem, meloloskan permintaan Prancis agar sebagian wilayah Ortodoks Yunani di dalam Gereja Makam Kudus diberikan ke Katolik Roma.Ancaman ini membuat penguasa Ottoman, Sultan Abdulmecid I, mengeluarkan dekrit berisi penghentian pengalihan hak dan properti di dalam Gereja Makam Kudus.
Para Peziarah di Gereja Makam KudusSampai sekarang, status quo itu masih berlaku dalam setiap sendi kepengurusan gereja, mulai dari jadwal misa, bahasa yang digunakan saat misa, hingga rute setiap prosesi.Setiap perubahan dari rutinitas itu berisiko menyebabkan ketegangan dan kekerasan. Contoh peristiwa terkini berlangsung pada 2008 manakala baku hantam terjadi antara pemuka Ortodoks Yunani dan Ortodoks Armenia gara-gara rute prosesi. Akibatnya, beberapa orang ditangkap.Karena menjaga status quo merupakan urusan yang pelik, renovasi dan perbaikan gereja sangat jarang dilakukan, kata Raymon Cohen."Menjaga perdamaian bukan urusan yang mudah," ucapnya.Bagaimanapun, setelah berpuluh tahun berunding, para pemimpin Katolik Roma, Ortodoks Armenia, dan Ortodoks Yunani baru-baru ini membuat kesepakatan bersejarah untuk memperbaiki konstruksi yang diyakini sebagai makam Yesus. Sejumlah arsitek sudah sejak jauh hari mengingatkan konstruksi tersebut rawan ambruk.Konstruksi berbentuk persegi itu dikenal dengan sebutan Edicule. Lokasinya berada di bawah bundaran utama gereja, yang kini ditutupi perancah. Beragam tangga, bongkahan batu, triplek, dan material bangunan lainnya berceceran di sekitar pusat gereja sejak Juni 2016.Pekerjaan perbaikan pada kapel makam itu adalah yang pertama kali dilakukan selama lebih dari 200 tahun dan proyek signifikan pertama di gereja sejak bangunan direstorasi pada awal 1960-an.
Pada Minggu pukul 18.30, setengah jam sebelum gereja resmi ditutup, bunyi hantaman memecah keheningan. Suara itu datang dari Omar Sumren yang menjalankan ritual membunyikan pengetok pintu, yang berlanjut dengan menutup salah satu dari dua pintu sebagai tanda menutup jam operasional gereja. Sumren dan adiknya, Ishmael, telah bekerja untuk Al Husseini selama 25 tahun. Mereka menjalankan ritual membuka dan menutup pintu gereja ketika Al Hussein sedang sibuk.Sesaat sebelum pukul 19.00, ketika pengunjung terakhir meninggalkan gereja, Ishmael menaiki tangga yang direbahkan pada pintu gereja dan memindahkannya ke luar.Berdiri di dekat pintu, dua biara Katolik ordo Fransiskan mengawasi setiap gerakan. Seorang polisi Israel, yang memakai tutup kepala Yahudi atau Yarmulke, juga hadir mengikuti ritual malam itu.Ishmael menutup pintu lalu menuruni anak tangga guna menggerakkan kunci penutup. Dia melipat tangga dan menyorongkannya ke arah para biarawan melalui celah kecil pada pintu.Selagi para biarawan memulai aktivitas mereka di dalam kompleks gereja pada malam hari, Omar, yang mendapat kepercayaan memegang kunci dari Al Husseini, beristirahat di dalam ruangan kecil dekat lapangan utama di depan gereja. Setiap malam salah satu pemegang kunci tidur di sini, siap memulai ritual membuka pintu gereja keesokan harinya. "Bagi saya, ini adalah rumah kedua," kata Al Husseini. Sumber : 


